Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah mahasiswa yang masih kuliah di Perguruan tinggi di Pontianak, khususnya PGSD FKIP Untan.
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 19 Juni 2014

PEMBELAJARAN IPA YANG EFEKTIF

Pembelajaran yang efektif secara umum dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memberdayakan potensi siswa/peserta didik, serta mengacu pada pencapaian kompetensi masing-masing peserta didik. Jika guru akan merancang pembelajaran IPA di SD, sebaiknya memperhatikan 7 ciri utama pembelajaran efektif yang memberdayakan potensi siswa :
1.     1.  Berpijak pada prinsip konstruktivisme
  Pembelajaran beranjak dari paradigma guru yang memandang bahwa belajar bukanlah proses siswa       menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru, melainkan proses siswa membangun pemahaman       terhadap informasi dan pengalaman sebelumnya. ( Guru harus memandang bahwa siswa di dalam belajar   bukan hanya berupa menghapal dan mentransfer pengetahuan, tapi siswa juga harus mampu membangun    pengetahuan dari informasi dan pengalaman sebelumnya.).
Misalnya saat guru memberikan pengalaman yang berkaitan dengan materi sebelumnya dan dihubungkan dengan materi yang akan diajarkan. Jika benda padatnya terdiri dari satu unsur, atom, maka benda yang dipanaskan akan memuai. Ibaratnya seperti kayu, yang mengandung air, akan menguap sehingga mengalami penyusutan.
Pada waktu apersepsi, kesempatan guru untuk menanyakan, menggali konsep-konsep pengetahuan yang pernah didapatkan siswa sebelumnya. Pelajaran yang akan dikaitkan dengan materi yang akan diajarkan. Jika ingin pembelajaran siswa aktif, guru juga harus aktif sebagai fasilitator, menunjukkan jalan penyelesaiannya, bukan langsung hasilnya.
Supaya siswa bisa membangun pemahamannya, maka guru harus bertanya kepada siswa,untuk mendapatkan balikan.  Dalam belajar, seluruh panca indera siswa harus dilibatkan.
2.     2.  Berpusat pada siswa
Siswa memiliki perbedaan satu sama lain,misalnya berbeda dalam minat,kemampuan, pengalaman, dan cara belajar. Ada siswa yang lebih mudah belajar dengan cara dengar-baca. Siswa yang lain lebih muda dengan cara melihat/kinestetika (gerak). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran/organisasi kelas,materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar,dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. Artinya, pembelajaran perlu memperhatikan bakat,minat,kemampuan,cara dan strategi belajar,motivasi belajar, dan latarbelakang social siswa. Misalnya dengan penilaian harus beragam,materi dan soal juga harus beragam baik dari tingkat kesulitan maupun dari aspek yang lain.
        Motivasi belajar, misalnya guru berkeliling saat siswa sedang mengerjakan tugas, dan bimbingan. Pertanyaan harus jelas, ditujukan kepada siapa, jangan ngambang. Oleh karena itu, pertanyaannya dilontarkan kepada kelas, seluruh siswa, kemudian menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
3.     3. Belajar dengan Mengalami
Pembelajaran perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan penrapan konsep dan prinsip ilmu yang sedang dipelajari. Contohnya, kita sedang mengajarkan tentang tumbuhan, struktur daun. Agar anak mempunyai pengalaman melihat objeknya tentang struktur daun, bagaimana bentuknya, pangkalnya, sehingga nanti bisa dibedakan. 
Anak harus mencari daun-daun tersebut. Umumnya daun tersebut yang membungkus daun seperti pelepah umumnya, bentuk  daun tersebut menjari. Jika dalam pembelajaran menggunakan pengalaman, semua konsep-konsep akan mudah dipahami dan ingatannya menjadi kuat.

4.    Mengembangkan keterampilan social,kognitif, dan emosional.
Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru. Dengan kata lain membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan social. Dalam kelas, interaksi ini dapat ditingkatkan dalam bentuk kerja kelompok. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil temuannya. Dengan demikian,pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan pendapat, sikap,kemampuan  maupun prestasi.  Pembelajaran perlu memupuk rasa empati, dengan tetap menyelaraskan pengetahuan,menentukan sikap dan tindakannya.
5.    5.  Mengembangkan keingintahuan siswa, imajinasi dan rasa fitrah bertuhan. Artinya, dirinya sendiri adalah milik-Nya. Untuk peka, kritis, mandiri dan kreatif. Sementara rasa fitrah bertuhan merupakan embrio/cikal-bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan. Agar dalam pembelajaran menjadi wahana untuk mengembangkan 3 ranah, yaitu kognitif, akfektif, dan psikomotorik.

6.     6.  Belajar Sepanjang Hayat.
      Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk dapat bertahan dan berhasil dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif dan mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya, untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang dianugrahkan tuhan kepada dirinya.
7.      7. Perpaduan antara kemandirian dan kerjasama.
   Siswa perlu berkompetisi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Dari ciri ini, pembelajaran        perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetisi sehat. Dalam     memperoleh penghargaan, bekerjasama, dan solidaritas. Jadi,pembelajaran juga perlu menyediakan tugas-     tugas yang memungkinkan siswa dapat bekerja secara mandiri.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll