Pembelajaran yang efektif secara
umum dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memberdayakan potensi
siswa/peserta didik, serta mengacu pada pencapaian kompetensi masing-masing
peserta didik. Jika guru akan merancang pembelajaran IPA di SD, sebaiknya
memperhatikan 7 ciri utama pembelajaran efektif yang memberdayakan potensi
siswa :
1. 1. Berpijak
pada prinsip konstruktivisme
Pembelajaran beranjak dari
paradigma guru yang memandang bahwa belajar bukanlah proses siswa menyerap
pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru, melainkan proses siswa membangun
pemahaman terhadap informasi dan pengalaman sebelumnya. ( Guru harus memandang
bahwa siswa di dalam belajar bukan hanya berupa menghapal dan mentransfer
pengetahuan, tapi siswa juga harus mampu membangun pengetahuan dari informasi
dan pengalaman sebelumnya.).
Misalnya
saat guru memberikan pengalaman yang berkaitan dengan materi sebelumnya dan
dihubungkan dengan materi yang akan diajarkan. Jika benda padatnya terdiri dari
satu unsur, atom, maka benda yang dipanaskan akan memuai. Ibaratnya seperti
kayu, yang mengandung air, akan menguap sehingga mengalami penyusutan.
Pada
waktu apersepsi, kesempatan guru untuk menanyakan, menggali konsep-konsep
pengetahuan yang pernah didapatkan siswa sebelumnya. Pelajaran yang akan
dikaitkan dengan materi yang akan diajarkan. Jika ingin pembelajaran siswa
aktif, guru juga harus aktif sebagai fasilitator, menunjukkan jalan
penyelesaiannya, bukan langsung hasilnya.
Supaya
siswa bisa membangun pemahamannya, maka guru harus bertanya kepada siswa,untuk
mendapatkan balikan. Dalam belajar,
seluruh panca indera siswa harus dilibatkan.
2. 2. Berpusat
pada siswa
Siswa
memiliki perbedaan satu sama lain,misalnya berbeda dalam minat,kemampuan,
pengalaman, dan cara belajar. Ada siswa yang lebih mudah belajar dengan cara
dengar-baca. Siswa yang lain lebih muda dengan cara melihat/kinestetika
(gerak). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran/organisasi kelas,materi
pembelajaran, waktu belajar, alat belajar,dan cara penilaian perlu beragam
sesuai karakteristik siswa. Artinya, pembelajaran perlu memperhatikan
bakat,minat,kemampuan,cara dan strategi belajar,motivasi belajar, dan
latarbelakang social siswa. Misalnya dengan penilaian harus beragam,materi dan
soal juga harus beragam baik dari tingkat kesulitan maupun dari aspek yang
lain.
Motivasi
belajar, misalnya guru berkeliling saat siswa sedang mengerjakan tugas, dan
bimbingan. Pertanyaan harus jelas, ditujukan kepada siapa, jangan ngambang.
Oleh karena itu, pertanyaannya dilontarkan kepada kelas, seluruh siswa,
kemudian menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
3. 3. Belajar
dengan Mengalami
Pembelajaran perlu menyediakan
pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan penrapan
konsep dan prinsip ilmu yang sedang dipelajari. Contohnya, kita sedang
mengajarkan tentang tumbuhan, struktur daun. Agar anak mempunyai pengalaman
melihat objeknya tentang struktur daun, bagaimana bentuknya, pangkalnya,
sehingga nanti bisa dibedakan.
Anak harus mencari daun-daun tersebut. Umumnya
daun tersebut yang membungkus daun seperti pelepah umumnya, bentuk daun tersebut menjari. Jika
dalam pembelajaran menggunakan pengalaman, semua konsep-konsep akan mudah
dipahami dan ingatannya menjadi kuat.
4. Mengembangkan
keterampilan social,kognitif, dan emosional.
Siswa akan lebih mudah membangun
pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau
guru. Dengan kata lain membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi
dengan lingkungan social. Dalam kelas, interaksi ini dapat ditingkatkan dalam
bentuk kerja kelompok. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk
mengkomunikasikan gagasan hasil temuannya. Dengan demikian,pembelajaran
memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan pendapat,
sikap,kemampuan maupun prestasi. Pembelajaran perlu memupuk rasa empati, dengan
tetap menyelaraskan pengetahuan,menentukan sikap dan tindakannya.
5. 5. Mengembangkan
keingintahuan siswa, imajinasi dan rasa fitrah bertuhan. Artinya, dirinya
sendiri adalah milik-Nya. Untuk peka, kritis, mandiri dan kreatif. Sementara
rasa fitrah bertuhan merupakan embrio/cikal-bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan.
Agar dalam pembelajaran menjadi wahana untuk mengembangkan 3 ranah, yaitu kognitif, akfektif, dan psikomotorik.
6. 6. Belajar
Sepanjang Hayat.
Siswa memerlukan kemampuan
belajar sepanjang hayat untuk dapat bertahan dan berhasil dalam menghadapi
setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu,
siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. Pembelajaran perlu mendorong
siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif dan mengenali dirinya baik
kelebihan maupun kekurangannya, untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang
dianugrahkan tuhan kepada dirinya.
7. 7. Perpaduan
antara kemandirian dan kerjasama.
Siswa perlu berkompetisi,
bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Dari ciri ini, pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat
berkompetisi sehat. Dalam memperoleh penghargaan, bekerjasama, dan solidaritas.
Jadi,pembelajaran juga perlu menyediakan tugas- tugas yang memungkinkan siswa
dapat bekerja secara mandiri.

0 komentar:
Posting Komentar